Chrome Lag @ Windows 7

December 29, 2009

After months of struggling on using Chrome, I finally found a solution to a laggy chrome on windows 7. If you experienced typing lag or scrolling lag using Google Chrome on Windows 7, you might try this solution. It might also solve the problem on the typing lag with Windows Live Messenger. I haven’t tried it on WLM though, but it’s worth a try.

Thanks to joelpt who posted this solution at: http://www.google.pl/support/forum/p/Chrome/thread?tid=0d34429a369f2a20&hl=en#all

————————————————————————————

Popular answer

I have discovered a couple possible fixes for this problem. The first one listed turned out to be the cause of my problem. Give them a try and let us know if either work for you.

TABLET DRIVER/LOW LEVEL MOUSE HOOKS: This problem appears to be connected to "low level mouse hooks" causing problems in Win 7. Click the Start button, type ’services’ and pick the Services item from the list. Scroll down to the Tablet PC Input Service and double click it. Click Stop, then change the ‘Startup type’ setting to "Disabled". Hit OK.
If you run any other applications which change how your mouse functions (e.g. AutoHotKey), also kill those programs. Test to see if the problem has gone away.

AUTO DISCOVERYING PROXY: The "auto detect proxy" function of Win 7 may be causing lag for some users. To disable it, go to Wrench->Options->Under the Hood->Change Proxy Settings. Click "LAN settings" and uncheck "automatically detect settings". Additionally click "Settings" (if it’s not grayed out) and uncheck "Automatically detect settings" here too. Hit OK until you get back to the browser. Test to see if the problem has gone away.


Welcome to the Chrome 4 world!

December 14, 2009

Udah lama ga nulis. Sebenernya banyak yg mau ditulis, tapi males mau mulai. Mumpung lagi ada niat, mari mulai nulis lagi, :) .

I <3 Chrome 4. Yeah, really really love it. Walaupun masih beta, tapi udah bisa dianggap best browser so far(lebay).

Ada 2 feature yang menurutku paling bisa dibanggakan dari Chrome 4 ini, i.e. Theme & Extension. Untuk theme, silahkan didonlot sendiri ya di sini. Karena pandanganku terhadap hal-hal yg berhubungan dgn grafis sangat buruk, mending jangan suruh aku kasih review utk theme yg ada, :P

Now, here comes the extension. Sampe sekarang, udah banyak chrome extension yg siap donlot. Lengkapnya bisa dilihat di sini.

Mungkin para pengguna firefox udah terbiasa dengan extension. Tapi ada beberapa hal yg membedakan chrome version dgn firefox version.

  1. Abis install/uninstall extension, chrome ga perlu restart browser. Extension langsung siap pakai / siap diberantas! (walaupung mgkn sebaiknya direstart, krn baru saja aku nemuin 1 extension yg ga jalan sblm aku restart chromenya)
  2. Extension nya muncul sebagai icon kecil yg terletak di sebelah kanan address bar. dengan begitu, extension sangat gampang utk diakses. Mungkin akan menjadi sedikit bikin risih ketika kita menginstall banyak extension => address bar menyempit. but, who cares? Do you really think you’re going to install hundreds of extension? :P
  3. Extension yg aktif lgsg ketika di klik. Beberapa extension akan hadir sebagai “mini windows page” di pojok kanan atas. Sangat praktis digunakan misal utk ngecek email / RSS feed.

ext1

*chrome extension screenshot. Icon terletak disebelah kanan address bar. Tidak semua extension mempunyai icon.

Dari sekian banyak extension yg ada, ada beberapa yg menurutku “penting” utk dimiliki setiap user, setidaknya penting buatku sendiri, :P .

Apa saja? Berikut beberapa extension yang sedang aku pake:

1. Beautify Facebook

Extension gak penting. Tapi aku seneng aja melihat perubahan pada webpage facebook. Jadi terlihat lebih “keren”. No more.

2. Brizzly

This extension is so amazing. Aku pake extension ini buat twitter & facebook (preferably buat twitter sih).

Kalo biasanya orang-orang menggunakan fasilitas shorten url buat nge-tweet biar url-address nya jadi singkat, brizzly akan menampilkannya sbg “real address”. Ini sangat penting karena mungkin ada beberapa orang “iseng” yang men-short url-url berbahaya. Jadi kita bisa tau url sebenernya.

Selain itu, photo/video yang dilink di twitter/facebook juga siap lgsg di lihat di mini page brizzlynya.

ext2

3. Google Mail Checker Plus

Not much to be described. Yang jelas, wajib punya deh. Tampil sebagai mini page, di icon nya juga tertulis berapa unread message. Silahkan jelajahi sendiri, :P

 

ext4

4. Google Translate

Bagi kalian yang suka browsing ke website berbahasa aneh sayang google ga ngerti bahasa palembang, ini lah extension wajib punya. Google Translate menjadi sangat praktis digunakan.

ext6

ext7

Some of the languages available. More than enough, isn’t it? :)

5. IE Tab

Haven’t really tried this extension. But perhaps, another must have extension. Similar with the Firefox one. Don’t know whether it might be buggy or laggy.

6. Slideshow

Sesuai dengan namanya, slideshow, extension ini digunakan untuk menampilkan foto yang kita browse dengan cara yg “berbeda”. Aku install ini hanya karena tertarik dengan tampilannya, :)

*Read the download link for the usages & features it has.

ext8

Without Slideshow (Normal View)

ext9

With Slideshow

7. WOT

Web of Trust. Cannot guarantee whether it is reliable or not, but might be worthed to have this extension

*See the video for more

8. Youtube Auto Replay

Last but not the least. Bagi para Youtube fanatic, extension ini wajib dimiliki. Kalo misalnya kita lagi seneng satu lagu, dan cuma pengen denger lagu seharian sekalian bisa ngapalin lagunya , tp ga pengen donlot lagu itu dengan alasan 1 lagu itu menghabiskan “banyak” harddisk memory (eh jangan salah, walaupun cuma sekitar 3 MB, kalo di convert jadi byte, angkanya jadi gede banget lho, :P ), extension ini tentunya sangat menarik untuk digunakan.

ext10 

See? No no no, not the song I am listening. It’s the small text on the top-right of the video… :)


Sebenernya ga cuma 8 itu sih yang aku pake, males ngereview satu2 (bikin ini aja udah sejaman, :P ). Anyway, silahkan dicoba sendiri untuk extension-extension lainnya Warning: Time-wasting virus detected

*Terus, gimana dengan memory usage?

Hah? Yang bener? Jaman gini masih muncul pertanyaan ginian? Cupu!!! Computer nowadays has a minimum of 4 GB installed (mine is 2 GB, 3 years old laptop, but still “usable”). Who give a damn care on 100-200 MB memory used??? :P

Anyway, Dengan fasilitas task manager chrome, kita juga bisa melihat memory usage dari extension yang sudah terinstall. Mungkin saja ntar ada extension yg pake 1 GB memory (less likely, but not impossible), bisa kita matiin dengan segera).

ext11

After opening more than 1 hour. Not that many right? Masih dalam batas normal.


Dengan adanya chrome extension ini, browsing dengan chrome pun akan menjadi sangat asyik & praktis *gaya promosi staff google, :P

 

Habibi Alkaff

Jadi pengen bikin extension sendiri. Tapi kapankah niatan ini bisa terwujud? :(


Cerita dibalik Idul Fitri 1430H

September 27, 2009

Lengkaplah sudah. 4 tahun berlebaran di Singapura. Dengan hanya libur 1 hari, kita para pengelana ini mau tidak mau harus merasa puas dengan suasana lebaran di KBRI yang sangat singkat.

Sekedar selingan:

Tahun ini, lebaran Idul Fitri terasa ada yang kurang. Saya memasang taget tinggi untuk Ramadhan tahun ini, namun tak satupun yang tercapai. Walaupun lebih baik dibandingkan tahun lalu, namun masih kuanggap sebagai Ramadhan yang kurang bermakna

Pagi-pagi, berangkat bareng dari NTU. Seperti biasanya, selalui dibumbui dengan yang telat bangun & tunggu-menunggu. Setelah shalat Ied, bermaaf-maafan, baru dilanjutkan dengan makan mewah yg disediakan KBRI. Yah, setidaknya dalam waktu kurang dari 6 jam ini bisa mengobati kekangenan kami dengan suasana lebaran di Indonesia.

Tapi, untuk saya, tahun ini sedikit agak berbeda. Saya bisa pulang *YAY!!. Tapi habis lebaran, tepatnya dari H+3 lebaran sampai hari ini.

Pulang dengan membawa banyak misi yang harus dicapai. Secara general, ada 4 misi yang saya ingin kerjakan di liburan yang singkat ini.

  1. Bertemu keluarga & bermaaf-maafan
  2. Makan-makanan enak, yang tidak ada di Singapura.
  3. Reuni SMP (lebih tepatnya kumpul bareng doang sama teman-teman sekelas waktu kelas 3 SMP)
  4. Nonton KCB 2.

Bertemu Keluarga & Bermaaf-maafan => Report: Over-Achieved, Alhamdulillah, :)

Momen lebaran adalah momen yang luar biasa. Karena, hanya pada momen inilah semua keluarga besar sebesar-besarnya bisa bertemu. Banyak sanak-saudara yang jaran atau bahkan tidak pernah ditemui, datang ke Palembang. Ya, Palembang benar-benar menjadi kota pertemuan bagi keluarga-keluargaku.

Momen yang singkat, namun sangat berarti. Dalam 4 hari itu, saya bertemu banyak sekali keluarga + orang-orang yang saya baru tahu kalo mereka juga adalah keluarga saya. Kalo disambung-sambungkan, ternyata banyak juga yang bisa nyambung. Om, tante, sepupu, keponakan, mindo, dll.

Sangat kurindukan momen ini semenjak kepergian ku ke NTU. Akhirnya, tahun ini, saya bisa bertemu mereka kembali.

Makan-makanan enak => Report: Success

Wah, ini yang paling penting. *Nanti poto2nya bakalan ku post di Facebook, :P .

Masih berhubungan dengan misi yang pertama. Pada momen lebaran ini, banyak sekali undangan, dari pernikahan, akikah, sunatan, haul, sampai sedekah haji. Kalo ngeliat jadwal undangannya, pagi-siang-sore, seminggu penuh lebaran itu gak ada jadwal kosong. Luar biasa.

Nah, inilah kesempatan yang jarang sekali ditemukan. Selain bisa bersilaturrahmi dengan sanak saudara, kesempatan ketemu makan-makanan yang jarang sekali ditemukanpun muncul.

Pulang kemarin, Alhamdulillah saya berhasil menghadiri tiga undangan. Haul, Pernikahan, dan sedekah haji. Dan Alhamdulillah, dari tiga undangan itu, saya berhasil memakan-makanan khas yang tidak ada duanya di Indonesia ini, Nasi Minyak & Ragit. Apa itu? Liat potonya aja di Facebook nanti, :)

Reuni SMP => Report: Failed

Ini satu misi yang saya sayangkan sekali saya tidak berhasil menyelesaikannya. Kira-kira 1 bulan yang lalu, ada ide dari salah satu teman saya untuk mengadakan buka bareng teman-teman kelas 3 SMP waktu itu. Setelah diskusi panjang, akhirnya buka bareng dibatalkan, dan diganti menjadi silaturahmi sesudah lebaran aja. Waktu pun ditetapkan, 24 Agustus 2009.

Waktu itu, saya sangat yakin bisa menghadirinya. Namun sayang, saya belum ditakdirkan untuk bertemu mereka sekarang. Jadwal dimajukan menjadi tanggal 23 Agustus 2009 karena banyak yang tidak bisa pada tanggal itu. Saya tidak bisa pulang lebih awal karena jadwal setiap hari selasa sudah di reserve untuk FYP Meeting. Saya pun baru bisa pulang hari rabu, 23 Agustus 2009.

Mungkin semua ada hikmahnya. Kalo saya pikir-pikir lagi, seandainya saja benar jadi tanggal 24, waktu saya untuk bersilaturahmi dengan keluarga akan menjadi semakin singkat. Mungkin misi 1 saya tidak akan sesukses yang saya harapkan.

Pada akhirnya, manusia boleh berkehendak, tapi keputusan tetap ada di tangan Allah SWT. Allah mengetahui apa yang terbaik untuk kaum-Nya.

Nonton KCB2 => Report: Success.

Jika seandainya rating film itu dari angka 1-10, maka saya berani memasang angka 11 untuk film ini. This film is just so awesome. Saya kagum dengan isi ceritanya. Mungkin ada yg mengkritik karena ada yg ga sesuai dengan novel. Tapi saya tidak merasa demikian, karena saya tidak membaca novelnya, hehehe, :P

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini. Sangat disarankan untuk ditonton. Ga bakal rugi.

Satu kutipan menarik dari film ini adalah ketika Ibu Azam menolak satu wanita untuk menjadi calon istrinya Azam. Alasan ibu itu sederhana,

Dia itu abis Subuh, langsung tidur. Ibu ndak suka sama wanita seperti itu. Kata orang dulu, kalo abis Subuh langsung tidur, nantinya rejekinya dipatuk ayam.

Hihihi, kritikan pedas juga nih buat saya. Harus mulai berusaha untuk menghentikan kebiasaan buruk ini dari sekarang. Insya Allah.

 

Habibi Alkaff

Liburan pendek namun sangat berarti. Aku berharap masih bisa bertemu dengan bulan Ramadhan & Syawwal lagi di tahun depan, agar mendapat Ramadhan yang lebih bermakna & lebih mensukseskan Iedul Fitri ku di bulan Syawwal.

Amin.


Vice President 2009-2014 == President 2004-2014 ?

July 29, 2009

For this post, I’ll try to make it in English (some short comments will be written in Bahasa). There might be some errors in Grammar and Structure. Well, I don’t really care ‘bout that, as long as it is “readable”.

Last Sunday, Our KPU-elected Vice President came to Singapore. We, Indonesian in Singapore, were invited to have a short talk with him at Embassy. Actually, He was invited by RSIS NTU to have a Seminar on Tuesday. Thus, Indonesia Embassy took this rare chance to “introduce” Mr. Boediono to us.

Of course, I don’t wanna miss this great opportunity (mumpung belum resmi jadi Wapres, dia masih mau “merakyat). Even though if you read my posting “Surat Buat (pak) Yudhoyono” , you might conclude that I don’t really like him as a VP.

Now the question is, did I change my opinion on him after the talk?

Well, before I speak out my opinion, let’s read this very interesting note by my friend, Indra Purnama. He post this note at his Facebook Profile.

————————————————————————————

B for Boediono, B for Badass??

Today at 9:27pm

Ok, because recently our excellence Vice President (gonna be) Prof Boediono came to Singapore and gave a talk at the Indonesian Embassy, I just want to share my impression on him. Dont expect this note to be properly written or to cover any of his political moves, because the day Indra Purnama writes something intelligent or close to that is the day you will see Tyas Kokasih smokes in public, i.e not going to happen.

He is smart and also badass, so it is like having two mcspicy-s in one burger, double the awesomeness

Just like rice is called Oryza Sativa for a certain reason (which sadly does not make much sense to most people), therefore me as the writer of this note also has to state the reason why he labels Boediono with ‘badass’ title.

Rice, called Oryza Sativa, as for the reason, nobody cares…..

The talk which I mentioned earlier was held at the Indonesian Embassy in Singapore, Boediono’s real prurpose for coming to Singapore was to give talk at RSIS (Rajaratnam School of International Studies), but because it was said that more than 80% of voters of the recent Indonesia presidential election here gave their vote to the SBY-Boediono pair, therefore he decided to give us a visit as a way to show his appreciation.

science, for those who does not study it it sounds cool…

The first thing that caught my attention was a part of his speech where he said that ‘it is of course desirable that those who study aboard to come back to Indonesia so that they can help in developing Indonesia, but as it stands now, it is understandable if they decide to work aboard too’…….WOW finally someone who understands….Ok, yours truly here has not even graduated, but not once he saw people not approving those who decided to work abroad, not once he saw people labeling them ‘traitor’ without any reason whatsoever. For better example, let’s take the case of a certain Indonesian student (R.I.P) that happened in NTU some months ago, just go online and then see how some ,if not most, of the reactions that came from those that live in Indonesia, they blatantly scorn us. Please people, even for that specific case, in which scientific development was concerned, Indonesia did not lose anything even if somehow his research finding was published, Indonesia could still benefit from it, hell what needed was just access to scientific journal. So in short Indonesia does not lose that much by having her people to work abroad, in some cases she can even benefit from it. So cheers for Boediono for showing that he at least understands us.

Global World:It is not the time to act all high and mighty anymore

The second thing that amazed me was this words of his: "For the infrastructures, we have neighbors that we can take example from". AWESOME. It is perfectly acceptable to have pride in own’s self achievement, but it is also the fact that to improve, one has to know one own’s standing. I always feel sad whenever I hear this statement: "Damn Malaysian, dont act all high and mighty, some decades ago it was you who came to Indonesia to study from us….", I Just cant understand this, we have a neighbor in which she is also composed of mostly Malay race, just like our beloved country Indonesia, but we cant work together just because some past grudge and baseless pride? So again cheers for Boediono for understanding.

I just love him XD

The third awesome speech was when one of the audience stood up and then announced that he is the leader of the ‘Tim Sukses’ for Demokrat (Yay me for lame English :’D). This was really the highlight of the night for me. That dude then with full confidence told Boediono that that 80% was because of his doing, then after that he mentioned that he is also a businessman and he just made a deal with some other businessmen in which he needed Boediono to participate in the deal. Way to go to ashame yourself dude, you just show public that you worked for goverment to be able to do some backdoor agreements. But what was AWESOME was that, Boediono just simply laughed and said: "a good goverment is a goverment in which backdoor deals are not present", after hearing that my jaw just dropped and then I joined the crowd to give Boediono the applause he soo deserved for that answer. He’s badass indeed…
Actually much more awesomeness can be extracted from his speech back then, but because the writer is such a lazy and stupid person he will just end it here. Thank you for reading XD

So Who’s awesome? You ARE if u manage to read up to this point XD

————————————————————————————

After you read this awesome post, you might be easily conclude that he really liked the way Mr. Boediono talk on that day.

Let’s BTT, Do I Change my perspective on him?

The answer is “NO

I still didn’t really like him to become the VP. Why? My argument is very simple. From the way he talks, from the way he points out his argument, it’s just the same with our President, Mr. SBY.

Well, Some people might say, “It’s good, right? The government will be strongly bonded, no different opinion between both of them”.

No, I didn’t say that if we have the same P and VP perspectives on an issue. What I would like to point out is that both of them are “Too normative”.

One comment in that note that disagree with my opinion, said like this:

@habibi: justru yang normatif itulah yang rasional…..
aku suka part waktu dia ngomong: rakyat indonesia sudah cukup pandai untuk memilih pemimpin dengan program yang rasional, ga terlalu muluk muluk.. (tentu saja sudah saya parafrase karna dah lupa ucapan aslinya…)

Hmm…

Interesting point, isn’t it?

But then, those answers are just too easy to be said, in other words, *quoted from my friend’s statement*, “tipikal jawaban text book”.

You know la, those “text-book” answers are easily acceptable.

*Doh, capek nulis pake bahasa inggris, banyakan mikirnya. Nyambung pake bahasa Indo aja deh.

Kalau kita teliti lagi, semua jawaban mereka itu ga ada yg konkrit. Semua masih ABU-ABU Kata-kata seperti, “Kita akan meninjau…”, “Kita akan mencatat pendapat Anda…”, dan lain-lain. Jujur, saya paling ga suka jawaban seperti ini.

Saya malah lebih suka sama pemimpin yang berani mengatakan perbuatan yang akan ia lakukan secara Konkrit. Dengan demikian, jika dia memang terpilih, dia akan merasa bertanggung jawab untuk melakukannya. Tidak seperti jawaban-jawaban ABU-ABU. Kita tidak bisa dengan mudah menutut jawaban ga jelas begitu. Karena toh, pada intinya “THEY PROMISE NOTHING”.

Mungkin banyak orang berpendapat, “Ah, bodo amat. Tuh liat aja Pak SBY yang tipikal kayak gitu bisa sukses memimpin Indonesia 2004-2009”.

Ok, I have to agree with it. Tapi, kita lihat dong, apakah VP nya Pak SBY dulu memiliki perspektik yang sama dengan dia? Tentu tidak kan? Pak JK lebih berani Ngomong. Kalau "1” ya “satu”, kalau “0” ya “nol”. Mana ada istilah “setengah”.

————————————————————————————

Sebenernya, kemarin saya ingin bertanya kepada Pak Boediono. Ada beberapa point yang menurut saya penting untuk dijawab olehnya. Tapi sayang, walaupun udah tunjuk tangan, waktu yg diberikan “terlalu singkat” untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan warga Indonesia disini. Jadinya, kesempatan yang sangat langka ini pun sirna.

Ini adalah statement yang sudah saya pikirkan akan saya sampaikan kepada Pak Boediono.

Selamat Malam Pak. Saya Abdurrachman Habibi. Sekarang saya adalah mahasiswa di NTU.

Saya ingin langsung ke pertanyaan saja, karena lebih cepat dijawab akan lebih baik.

Kali ini, pertanyaan saya akan melihat dari sudut pandang Bapak sebagai Wakil Presiden, bukan sebagai Pemerintah pada umumnya.

Pertanyaan saya sederhana.

Pertama, Kok bisa Bapak yang terpilih sebagai WP? Menurut Bapak sendiri, alasan apa yang menyebabkan Bapak dipilih sebagai WP oleh Pak SBY? Bukan Pak Hatta, HNW atau bahkan Bu Sri Mulyani yang selalu digembar-gemborkan media sebelum pengumuman WP? Bahkan, selama saya mengikuti pemberitaan media, saya tidak pernah mendengar nama Bapak tercetus sedikit pun.

Kedua, Saya ingin bertanya. Menurut Bapak, Apa sih kelemahan-kelemahan dari pemerintahan Pak SBY sebelumnya, sehingga seorang Pak Boediono harus dipilih mendampingi Pak SBY? Apa saja yang bisa Bapak kontribusikan kepada Pemerintahan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, yang tidak bisa diberikan oleh Pak SBY pada periode sebelum ini? Saya mohon dijawab dengan memberikan 1 atau 2 contoh konkrit ya Pak.

Terima kasih atas kesempatannya, Selamat Malam

Saya sih berharap nya, Pak Boediono dapet memberikan jawaban yang bisa membuat saya yakin kepada Pak Boediono. Namun sayang, mungkin kesempatan itu memang belum ada.

After all, that seminar had made me more certain that on the Presidential Election

I still think that I didn’t choose the wrong candidate”

I’m very sorry to say this, but this is just an opinion from A Citizen.

Salam,

Habibi Alkaff

*berharap semoga yang datang memberikan talk/seminar suatu saat nanti adalah Pak SBY.


Maaf

July 16, 2009

Duh, bingung mau nulis apa lagi. Hari ini ga sempet nntn tv one. Tadi siang abis bayar LT booking buat Indo-Fresh, lanjut nntn 20th century boys 2, dan berlanjut bermain Bridge di kamar temen. Sampe jam 12 malem baru balik hall. Jadinya aku ga tau apa perkembangan pilpres hari ini.

Mumpung saya masih berkobar-kobar ngomongin politik, saya jadi ingin nulis tentang satu hal unik selama pilpres.

Seperti layaknya perjalanan pemilu pada umumnya, pilpres kali ini pun tetap dibumbui warna-warna hitam dari sebuah kampanye, alias black campaign. Yang menyedihkan adalah black campaign kayak gini biasanya dikaitkan dengan masalah SARA.

Apakah black campaign itu berasal dari tim sukses suatu kubu ataupun hanya berasal dari seseorang yang ingin menjadi provokator, yang jelas black campaign itu tentunya merugikan suatu calon.

Dari sekian banyak black campaign yang terjadi, tercatat ada 2 yang menurut saya, sangat berbahaya.

Pertama, tuduhan bahwa istri Boediono adalah Katolik. Maaf kalau saya menggunakan kata “tuduhan”, bukan berarti saya merendahkan posisi agama katolik, tapi memang pada kenyataannya Indonesia berpenduduk >80% muslim, dan saya yakin, masih banyak dari Muslim tersebut yang tidak akan mungkin memilih calon lain jika terkait dengan agama lain (termasuk saya tentunya, karena saya percaya bahwa agama yang paling mulia di sisi Allah hanyalah agama Islam).

Tuduhan ini berasal dari seseorang, yang saya lupa namanya, dan dimuat di sebuah koran lokal. Yang memprihatinkan adalah bahwa pemberitaan yang menurut saya masih abu-abu ini, malah dicetak dan disebarluaskan pada saat kampanye Pak JK.

Tim sukses pun dihujani pertanyaan. Namun, sikap mereka acuh tak acuh. Mereka berdalih bahwa selebaran dibagikan di luar ruang kampanye, jadi mereka tidak menganggap ini adalah black campaign, dan mereka tidak mau tahu atas asal-usul dari selebaran ini. Mengapa mereka tidak mau minta maaf saja sih? Karena menurut saya, bagaimanapun juga, ini tetap merupakan black campaign. Apakah sulit mengucapkan kata “Maafkan saya/kami”?

Kasihan Pak SBY. dulu tahun 2004, istrinya Pak SBY juga diberitakan beragama non-Islam.

Kedua, Andi Malarangeng. Pada 2/3 hari sebelum minggu tenang, Pak Andi, dalam kampanyenya di Makassar berkata kurang lebih seperti ini:
Orang Makassar itu banyak yang hebat. Ada waktunya untuk menjadi presiden. Tapi, yang sekarang, pasangan yang paling cocok adalah SBY-Boediono.

Apakah ini sebuah black campaign? Dilihat dari susunan kalimatnya, sepertinya tidak. Tapi, kalau boleh kita menyimpulkan, maksud Pak Andi (pada akhirnya kita tidak mengetahui apakah benar Pak Andi tidak bermaksud untuk black campaign) ini jelas sebuah black campaign.

Tapi, yang menarik adalah, orang-orang yang merespon. Terlihat kubu Pak JK tidak terlalu heboh mendengar berita ini. Tapi yang heboh justru masyarakat Makassar. Nah loh. Mereka menganggap, pernyataan Pak Andi ini menjatuhkan nama orang Makassar, dengan menganggap remeh orang Makassar jaman sekarang. Ini adalah sebuah pernyataan rasisme.

Eits, tunggu dulu bos. Rasisme? Somehow, I felt strange to mark Mr. Andi as Mr. Racist. Why? Lah wong Pak Andi nya sendiri orang Makassar. Gimana toh… Hahaha. Lagi-lagi topik menarik “Cuma di Indonesia…”. Seseorang menganggap rendah sukunya sendiri. Padahal, biasanya kita menganggap rasisme adalah menganggap rendah ras orang lain, dan menganggap ras sendiri paling kuat. Pak Andi sepertinya mau mengubah paradigma demikian. Top markotop!!! :P

Sebentar, tunggu dulu. Apa benar Pak Andi Rasis? Kalau menurut saya, itu bukan pernyataan rasis. Mengapa? Karena dalam statement itu, tidak ada sedikitpun kata-kata yang menjelekkan Makassar. Itu hanyalah kalimat kampanye biasa, untuk mengunggulkan pasangan calonnya. “Ada waktunya, tapi yang sekarang…” Saya yakin Pak Andi tidak bermaksud untuk menjadi seorang rasis.

Namun sayangnya, kenapa, untuk seorang Andi, juga sepertinya sulit untuk mengatakan maaf. Dia tetap bersikeras bahwa dia tidak bersalah, dan tidak akan mau minta maaf. Apakah sulit mengucapkan kata “Maafkan saya/kami”?

kalau boleh kasih saran, tinggal bilang begini, “Maafkan saya apabila susunan kata yang saya ucapkan ternyata menjadi persepsi yang salah bagi sebagian orang. Semoga hal ini akan menjadi pembelajaran bagi saya untuk tidak akan mengulanginya lagi di masa depan". Gampang kan. Tapi kok keliatannya susah banget ya ngomong sesimple kayak gitu?

Yah, memang realita hidup ini sangatlah sulit. Sangat gampang memberi sarang kepada orang untuk berbuat sesuatu, namun apabila saya berada di posisi Pak Andi, saya yakin saya akan menghadapi dilema untuk mengucapkan maaf atau tidak

Salam,

Habibi Alkaaf

 

Tiga kata yang dapat meluluhkan hati seseorang: Tolong, Maaf, dan Terima Kasih.


What’s Next?

July 14, 2009

Lagi-lagi masalah politik, hehehe. Politik emang ga ada matinya deh… Mari kita ber siyasi-ya rame-rame… :p

Pak SBY udah hampir dipastikan terpilih sebagai pemenang Presiden 2009-2014. Debat antar kubu capres pun meredam, karena toh mau digimanain juga gak bakal ada putaran ke-2. Mau protes ada kecurangan? Oh, C’mon, udah lebih dari 55% wot, kecurangan kalo sampe 10% mah ga mungkin lah. Emangnya tim sukses SBY-Boediono udah gila apa… hehehe

Then, Is it done? NO, absolutely not yet. Inikan baru keputusan quick count. Pak SBY baru terpilih sebagai Presiden “versi quick count”. Ntar tanggal 22-24 Juli akan terpilih sebagai Presiden “versi KPU”. Nah, resminya, Pak SBY baru akan terpilih jika sudah dilantik. Masih 3 bulan lagi, masih lama bro…

Jadi, topik apa lagi nih yg hangat? Masih banyak dong. Secara garis besar, akan ada dua topik yg masih akan terus dibahas. Pertama, masalah koalisi. Kedua, masalah susunan kabinet. Hmm… Ternyata media masih belum kehabisan bahan ya. 3 bulan kedepan dua topik ini akan menjadi yang paling seru untuk diperbincangkan.

Masalah koalisi. Loh, masalah apa lagi? Koalisi pecah? Demokrat berkhianat? Ya, nggak dong. Koalisi Demokrat mah udah jelas. Siapa sih yang ga mau ikut merasakan euforia kemenangan. Nah, pertanyaannya adalah dimanakah posisi 4 partai lainnya yang bukan merupakan koalisi demokrat, yaitu Golkar, PDIP, Gerindra, dan Hanura.

Mari kita mulai dari Gerindra dan Hanura. Posisi partai ini adalah partai baru. Jadi, rasanya tidak mungkin bagi mereka untuk ber-oposisi sendiri. Setidaknya, posisi mereka akan sangat ditentukan oleh koalisinya pada saat pilpres, Hanura bergantung pada Golkar, Gerindra bergantung pada PDIP. Namun, kita tidak tahu apa yg akan terjadi yang akan datang. Kalau menurut saya, jika mereka mau exist, mereka ga mungkin menjadi oposisi. Dengan kata lain, dukunglah pemerintahan sekarang. Selama 5 tahun, kumpulkan suara rakyat sebanyak-banyaknya. Jangan menjadi partai yang membuat masyarakat menjadi antipati. Ingat, lebih dari 50% masyarakat percaya dan yakin pada kepemimpinan SBY.

Nah, sekarang, bagaimana dengan PDIP dan Golkar? Dua partai yang sudah berakar dari jaman dulu. Akar yang sudah sangat kokoh. Namun sayang, kedua akar ini tidak pernah mau berbagi rata jika menemukan sumber air. Selalu saja ada pertengkaran.

Diluar dugaan ataupun sudah diprediksi, posisi Golkar dan PDIP pada pemilu kali ini bukan berada di posisi dominan. Dan yang lebih menyedihkan lagi, kedua partai ini gagal mensukseskan calon-calonnya pada pilpres kali ini (ingat, ini masih versi quick count). Lalu, apa yang akan mereka lakukan?

Kalau kita melihat kebelakang, Golkar yang selalu mendapat suara cukup besar dalam pemilu, tidak pernah menjadi partai oposisi (Hmm.. Saya ga ingat dulu waktu jaman Mega golkar jadi oposisi ga y?). Sedangkan PDIP, selalu menjadi partai oposisi, kecuali 2001-2004. Selama ini, Golkar dan PDIP tidak pernah akur. Nah, yang menarik adalah, selama pilpres kali ini, terlihat adanya koneksi antara kubu JK-Mega dalam menyerang SBY. Apakah ini pertanda baiknya hubungan antara dua partai ini? Apakah mungkin “Air” dan “Minyak” ini bisa menyatu?

Kalaupun mereka bersatu, saya yakin mereka akan menjadi partai oposisi. Ini merupakan hal yang cukup baik menurut saya dalam pemerintahan, karena setidaknya hanya akan ada dua kubu besar dalam parlemen. Tapi, apa mungkin ? Bagaimana jika Golkar tiba-tiba “merapat” ke SBY, seperti halnya yang terjadi pada 2004-2009? Tentunya, posisi oposisi semakin kecil, hanya sekitar 20%. Apakah ini akan menjadi pemerintahan yang sehat?

Yah, apapun yang terjadi. Kita lihat saja nanti, 4 Partai ini akan duduk disebelah mana.

Masalah yang kedua adalah masalah kabinet.

Hmmm… Belum banyak yang ingin saya bicarakan masalah kabinet pada posting-an kali ini, karena diskusi-diskusi dalam media memang belum banyak.

Tapi, kemarin, saya membaca detik.com , mengenai pernyataan Pak Amien Rais yang menyatakan bahwa seharusnya PAN mempunyai posisi dalam kabinet yang lebih banyak daripada partai koalisi lain, kecuali Demokrat tentunya. Lucu ga? Gak lucu sih. Boleh-boleh saja mengatakan demikian. Tapi, alasannya itu lho. Lucu banget. Dia mengatakan bahwa karena kontribusi Hatta Radjasa sangat besar dalam kemenangan SBY ini. Perkataan-perkataan seperti inilah yang memicu memanasnya kondisi di koalisi.

Tolonglah ya, koalisi ini sudah terbentuk dengan susah payah oleh Pak SBY. Jangan dirusak dengan klaim-klaim ga jelas kayak gini.

Saya setuju dengan statement Bung Andi Mallarangeng. Semua keputusan akan diserahkan kepada Pak SBY, karena dia yang memiliki hak prerogatif untuk memutuskan kabinetnya.

Jadi, menurut saya. boleh-boleh saja mempengaruhi pak SBY. Tapi ga kayak gini dong. Pake persaingan yang lebih sehat, misal “karena PAN memiliki tokoh-tokoh yang lebih siap untuk mengisi kabinet”. Begitu…. Dan, jangan sampe “ngambek” kalo misalnya jatah kabinet kalian lebih dikit. Semua keputusan pada akhirnya tetap di tangan SBY, selama memang orang yang dipilih Pak SBY itu bisa dipertanggungjawabkan dan bisa menampik semua dugaan-dugaan “kotor” dari orang luar maupun orang dalam.

Salam,

Habibi Alkaaf

Senengnya bisa nonton streaming TV One, bisa terus mendengar update-update menarik, :)


Kemenangan punya diri sendiri. Kesalahan punya orang lain

July 14, 2009

Lagi-Lagi masalah politik, hehehe. Akhir-akhir ini saya lagi gila politik. Dalam otak saya itu banyak banget hal-hal politik di Indonesia yang menurut saya aneh. Belum tentu salah sih, tapi aneh. Berhubung saya ini hanyalah rakyat biasa, tidak punya kekuasaan di pemerintahan, jadi daripada dipendam, mending saya tulis aja. Hehhee… :)

Posting kali ini membahas mengenai Klaim. Ya, dalam sebuah kampanye, dimana pada dasarnya ada dua kubu yang bertanding, incumbent dan non-incumbent, tentunya masing-masing mempunyai strategi yang berbeda. Secara general, kubu non-incumbent berusaha untuk mempublikasikan semua kejelekan-kejelekan yang dimiliki kubu incumbent. Sedangkan kubu incumbent selalu berusaha untuk mempublikasikan semua kesuksesan-kesuksesan yang pernah ia lakukan.

Mungkin keberadaan kubu incumbent dirasa kurang membuat persaingan menjadi “sehat”. Contoh kita lihat Pilpres di Amerika. Dua calon baru. Tentunya sangat menarik bukan? Tidak ada saling ejek. Mereka berusaha untuk mengutarakan visi-misi mereka secara lebih maksimal. Toh, mereka tidak punya banyak data mengenai kejelekan-kejelekan lawan. Demikian pula sebaliknya. Tidak adanya kubu incumbent membuat tidak ada kubu yang bisa mengklaim kemenangan dan berusaha menghindar dari kegagalan yang pernah dilakukan.

Kali ini saya bukan ingin membahas tentang boleh atau tidaknya keberadaan incumbent. Karena, toh semua negara memperbolehkan pencalonan ulang, seperti Indonesia, walaupun maksimal hanya 2 kali. Dan saya pun merasa, keberadaan incumbent justru membuat pertarungan menjadi panas, karena smua “kotoran-kotoran” dari pemerintahan sebelumnya bisa terkorek. Hehehe… :P

Nah, pernahkah Anda membayangkan jika seandainya semua capres adalah incumbent? Emang bisa? Bisa!!! Dan itu terjadi di Indonesia. Hahahha… Indonesia memang tiada duanya. Mengutip dari perkataan yang seseorang kalu ada hal-hal aneh terjadi di Indonesia, “Cuma di Indonesia…”

Mungkin, ada beberapa orang menganggap cuma SBY yang incumbent. Tapi saya memandangnya tidak demikian. JK adalah pendamping SBY, sedangkan Bu Mega adalah mantan Presiden, yang berarti bisa dibilang pernah menjadi incumbent.

Selama masa kampanye berlangsung, saya melihat ada hal aneh yang terjadi. Mengapa, pasangan JK-Wiranto, yang notabene juga merupakan incumbent, malah sering mengejek pemerintahan SBY? Bukankah artinya ini mengejek diri sendiri ya? Lucu memang. “Cuma di Indonesia…”

Sebenarnya hal yang paling menarik dalam pilpres kali ini adalah bukan saling mengejeknya, karena jelas setiap capres punya cacatnya masing-masing. Tapi yang menarik adalah, ketika seorang capres/tim suksesnya mengklaim keberhasilan pemerintahan dan ketika seorang capres/tim suksesnya merasa klaim dari kubu musuh tidak masuk akal.

Kita ambil beberapa contoh…

Pak JK mengklaim keberhasilan atas perdamain di Aceh. Apa salah??? Ya, nggak lah. Lah wong dia yang memang pergi untuk menandatangani perjanjian damai tersebut.
Lalu, Pak SBY ga boleh klaim dong??? Siapa bilang ga boleh!!!. Lah wong dia yang memimipin pemerintahan pada saat itu. Inget, posisi Presiden adalah sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Jadi, apapun keputusan yg diambil, pastinya Pak SBY bertanggung jawab dong.

Coba kalau misalnya perdamaian ini gagal. Siapa yang mau bertanggung jawab? Pasti ujung-ujungnya saling nuduh. “Cuma di Indonesia…”

Contoh lain…

Ketika Pak SBY/tim suksesnya mengungkapkan bahwa selama pemerintahan pak SBY, korupsi banyak yang diberantas. Hal ini mengundang protes dari kubu JK dan Mega. Kata mereka, yang ngurus pemberantasan korupsi adalah KPK. dan KPK adalah lembaga yang tidak berada di bawah Presiden.

Hahahha…. ini, menurut saya, adalah poin yang sangaaat lucu. Loh, kok lucu? Ya, jelas lucu. Inget lagi dong. Presiden adalah sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Jadi, apapun yang terjadi di Indonesia ini, Presiden berhak dong “mendompleng” namanya. Apa ini salah? Menurutku gak. Silahkan saja jika Pak SBY mau mengklaim. Toh, KPK terbentuk pada saat pemerintahan beliau.

Yang paling lucu adalah coba kita bayangkan kondisi sebaliknya. KPK gagal bekerja, malah anggota KPK sendiri yang korupsi. Siapa yang disalahkan? Pemerintah incumbent tentunya. “Cuma di Indonesia…”

Contoh lain lagi…

Jembatan Suramadu. Kalau yang ini perdebatannya antara SBY dan Mega.kubu SBY mengklaim suksesnya pembangunan jembatan Suramadu. Sedangkan kubu Mega mengklaim pembangunan jembatan Suramadu sudah dimulai dari jaman pemerintahan Mega, jadi kesuksesan pembangunan ini seharusnya tidak hanya Pak SBY yang megang.

Kalau yang ini, saya setuju sama kubu Mega. Tapi, coba diinget lagi. Pada saat pemerintahan siapa sih ide pencetusnya jembatan suramadu ini? Bukan jaman SBY dan juga bukan jaman Mega! Malah sudah dimulai dari jaman Pak Bacharuddin Jusuf Habibie (Mohon maaf kalau info ini salah, tolong diperbaiki jika memang salah). Jadi, kenapa hal ini diributin.

Yang seharusnya diperbincangkan adalah, bagaimana mempertahankan dan memanfaatkan jembatan ini. Jangan cuma asal jadi, trus dibangga-banggain? Nggak begitu Pak. Bapak/Ibu lihat dong kondisi jembatan itu sekarang. Baru beberapa hari, baut-baut jembatan sudah banyak yg hilang. Kalau masalah ini, siapa yang mau tanggung jawab??? Pada gak mau kan? “Cuma di Indonesia… “

 

Masih banyak contoh-contoh keanehan-keanehan lain selama masa kampanye Pilpres tahun ini. Tapi yang saya tidak pernah temui adalah, MENGAPA TIDAK ADA YANG MAU MENGAKUI KESALAHAN YANG PERNAH MEREKA PERBUAT???

 

“Cuma di Indonesia…”

Salam,

Habibi Alkaaf

 

Mohon perbaiki jika berita-berita yang saya kutip tidak benar adanya…


Haruskah ada Calon Independen?

July 13, 2009

Masih dalam suasana Pilpres, saya masih terbawa akan suasana politik yg panas. Selama di Indo, setiap hari tak luput saya membuka tvone/metro tv, melihat bagaimana serunya perdebatan-perdebatan politik Indonesia. Mumpung masih panas, saya jadi ingin nulis lagi, :p

Calon Independen. Jauh hari sebelum Pemilu, sempat terdesus kabar-kabar bahwa Pilpres 2009 kali ini akan ada calon independen. Tentunya sudah muncul beberapa nama kuat yang “sepertinya” siap maju menjadi calon independen. Tapi, ga tahu kenapa, semuanya batal. Mungkin karena peraturan UU yang mengharuskan adanya dukungan parpol minimal 20% untuk maju menjadi capres-cawapres. Ya, dengan kata lain, kalau sudah ada dukungan parpol, namanya sudah bukan calon Independen lagi kan? heheheh

Saya jadi teringat ketika dulu saya masih kelas 1 SMA. Tidak tahu datang arah angin dari mana, tiba-tiba saya diajak untuk ikut seleksi Anggota debat tingkat propinsi, yang nantinya akan bertanding di tingkat nasional untuk persiapan World Schools Debating Championship. Padahal saya pada waktu itu belum bergabung dalam klub debat. Apakah ada konspirasi? Hahaha, ga penting.

OOT. Ok, kembali ke topik. Jadi waktu itu tahun 2004. Setiap sekolah “terpilih” berhak mengirim 2 wakil untuk mengikuti seleksi tingkat propinsi ini. Seleksi dilakukan dalam 2 tahap, mengarang dan presentasi. Dalam tahapan mengarang, akan diambil 15 orang dari total peserta. Lalu, 15 peserta tersebut disuruh menyiapkan topik lain dalam waktu 1 hari untuk di presentasikan didepan 3 juri. Saya berhasil lolos tahap pertama, tapi saya gagal di tahap kedua. Diambil 3 orang, nilai saya hanya 1 poin dibawah nomor 3. Saya sadar karena dulu saya belum mengerti esensi dari perdebatan. Saya di”hajar” habis-habisan dalam sesi presentasi itu, karena saya mempresentasikan satu topik (lupa temanya apa) dengan memandang dari dua sisi, pro dan kontra. Padahal, seharusnya, dalam perdebatan, kita tetap harus stick hanya di satu sisi. Yah, maklumlah, masih amatir, :p

Wew, cerita ga penting yang ga berkaitan dengan judul post-an kali ini, :P .

Nah, yang menarik dari seleksi kali ini adalah ketika sesi mengarang. Kita dihadapkan pada 3 pilihan topik, dan harus pilih salah satu topik dan dikarang dengan TIDAK LEBIH dari 300 kata. Dikit banget ya, tapi dulu aku menganggapnya banyak banget tuh, toh aku cuma bs ngarang < 300, sedangkan teman seperjuangan dari sekolah ku kayaknya lebih dari 500 (keliatan dari karangannya sampe 2 halaman penuh). Dan sepertinya, peserta lain pun demikian. Yah, udah minder duluan lain, paling cupu sendiri… :P

Dari ketiga topik itu, ada satu topik yang menurut saya paling saya kuasai pada waktu itu. Topiknya kurang lebih adalah “We should allow candidate from non-party to participate in Presidential Election”, in other words “Calon Independen harus diperbolehkan”. Ketika seleksi ini, Pemerintahan masih dipegang Bu Mega, dan pemilu 2004 belum berlangsung.

Karangan saya yang super pendek itu hanya mengandalkan kejelekan-kejelekan yang terjadi selama masa Soeharto dan Mega. Dulu, saya berpikiran bahwa capres-capres yang berasal dari partai itu sangatlah jelek. Mereka selau bergantung pada partai. Saya memaparkan contoh jaman Soeharto dimana Golkar yang mungkin menggunakan uang negara untuk pemilu. Toh karena pemimipin berasal dari partai mereka, berarti mereka berkuasa akan negara ini. Dan lain sebagainya. Intinya, Partai akan selalu berada di posisi yang berdampingan dengan Presidennya. Sehingga, kita tidak bisa menemukan Presiden yang tidak memiliki kepentingan partai selama masa jabatannya.

Yang mengejutkan, sebelum pengumuman hasil karangan, ada satu juri yang tiba-tiba mendekati saya, dan memuji-muji apa yang saya tulis. Wow!!! Diluar dugaan saya tentunya. Berarti apa yang saya tulis itu benar adanya, dan banyak orang ingin adanya muncul Calon Independen.

 

Kembali ke masa sekarang. Semalam, saya sempat berpikir. Apakah benar posisi Calon Independen itu sangat diperlukan? Selama mengikuti perdebatan-perdebatan politik selama kampanye Pilpres ini, saya melihat bahwa posisi Parpol itu sangatlah penting. Bisa kita lihat betapa sulitnya SBY mengambil keputusan selama 2004-2009 karena partai pendukungnya sangatlah lemah. Loh, kok bisa??? Karena parlemen. Ketika seorang pemenang berasal dari partai kecil, tentunya yang menjadi oposisi pun berjumlah besar. Partai oposisi jelas mempunyai kepentingan sendiri, “menjatuhkan” kepemimpinan yang ada. Pak SBY tentunya hanya bisa berharap dari partai-partai non-koalisi yang juga non-oposisi untuk mendukungnya. Tetapi masalahnya, partai “netral” ini biasanya melihat keputusan itu hanya ditinjau dari apakah keputusan itu menguntungkan bagi partainya atau tidak.

Nah, coba bayangkan. Posisi SBY saja pada tahun 2004-2009, yang mempunyai kekuatan parpol di parlemen, sangat kesulitan. Bagaimana jika seandainya Calon Independen yang menang? Partai oposisi mungkin tidak ada memang, tapi semuanya akan menjadi partai “netral” yang hanya akan selalu mementingkan kepentingan pribadi. Akhirnya, sang Calon Independen ini jika ingin membuat keputusan, harus memikirkan apakah akan banyak partai yang setuju. Ujung-ujungnya, si Calon Independen ini juga bergantung sama partai dong???

 

Jadi, Haruskah ada Calon Independen?

 

Pertanyaan ini tentunya akan sulit terjawab. Banyak pro-kontra dimana-mana. Dan sepertinya, prediksi saya Calon Independen belum akan terwujud pada Pilpres 2014 ataupun 2019. Namun, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Semuanya bergantung pada Presiden yang akan datang, Pemerintahannya, dan Wakil-Wakil Rakyat yang telah kita pilih untuk periode 2009-20014.

Tapi yang pasti, seharusnya, jika SBY menang pada Pilpres kali ini (dan sepertinya udah pasti menang), dia memiliki kekuatan parlemen besar. > 50% kursi DPR dipegang oleh partai koalisinya. Jadi, mungkin untuk periode 2009-2014 ini, kita bisa berharap akan adanya suatu perubahan. (Asal jangan sampe kembali ke jaman orde baru ya, :p)

 

Salam,

Habibi Alkaaf

 

NB: Tulisan ini bukan Perdebatan, jadi boleh dong kalo saya melihat posisi Calon Independen dari dua sisi, heheheh, :P


Surat Buat (pak) Yudhoyono

July 11, 2009

Salam Bapak Yudhyono,

Saya, sebagai Warga Negara Indonesia yang ikut serta dalam pemilihan presiden 2009-2014 ingin mengucapkan Selamat kepada Pak SBY atas kemenangannya dalam pilpres kali ini. Walaupun hanya berdasarkan quick count, insya Allah hasil real count nya tidak akan jauh berbeda.

Tapi sebenernya, saya tidak memilih Bapak sebagai Presiden pada pilpres kali ini. Mungkin suara saya ini sangatlah kecil, kekurangan satu suara dari saya tidak akan mempengaruhi hasil pilpres kali ini. Namun ijinkan saya ingin menyampaikan alasan saya mengapa Saya tidak memilih untuk me-“Lanjutkan”.

Ketika melihat hasil quick count Pemilihan Umum 2009-2014, sesuai dugaan saya, Partai Demokrat akan mendapat suara yang luar biasa tingginya, jauh melebihi yang lain. Yah, harus diakui bahwa keberadaan Bapak SBY di Partai Demokrat sangat mempengaruhi Pemilu kali ini. Banyak saya dengar para warga yang memilih Partai Demokrat karena Pak SBY. Sebelum datang ke TPS, mereka tidak tahu partai apa saja yang ikut serta. Mereka tahunya partai Pak SBY. Kalaupun tidak tahu kalo itu adalah Partai Demokrat, mereka tinggal bertanya.

Memang tidak semua pemilih Partai Demokrat hanya karena alasan itu. Namun, bisa dibilang bahwa kesuksesan Bapak selama memimpin Indonesia 2004-2009 telah membuat banyak warga berharap agar Bapak kembali terpilih sebagai presiden. Saya gak peduli kalau banyak orang protes bahwa gak ada kemajuan selama 2004-2009 atau kesuksesan itu bukan karena Pak SBY. Yang jelas, saya melihat bahwa selama 2004-2009, kepala negara dan kepala pemerintahan pada saat itu adalah Susilo Bambang Yudhyono. Jadi, sudah sewajarnya kalau Bapak mau mengklaim kesuksesan-kesuksesan selama 2004-2009.

Pemilu kemarin menghasilkan hanya 9 partai yang memenuhi standar minimum yg ditetapkan di UU. 4 Partai Islam, 5 Partai Nasionalis. Menurut saya, ini cukup seimbang, mengingat memang mayoritas WNI adalah Muslim. Disini saya tidak bermaksud mendiskreditkan WNI non-muslim.

Setelah melihat hasil Pemilu, saya berani memprediksi bahwa Pak SBY akan menjadi Presiden lagi, dan itupun cukup dengan satu putaran.

Nah, yang menarik ada 2 hal: Siapakah yang akan menjadi lawan tanding Pak SBY? Dan Siapakah yang akan menjadi Cawapres pendamping Pak SBY?

Namun, sebelum membahas 2 pertanyaan itu, ada satu hal lagi yang sangat menarik untuk diamati, masalah koalisi antar partai. Selama tenggang waktu dari kluarnya hasil quick count Pemilu sampai batas waktu pendaftaran Capres-Cawapres, terbentuklah koalisi-koalisi.

Dari hasil diskusi yang saya yakin sangat rumit urusannya, terbentuklah tiga koalisi besar, yaitu Demokrat-PPP-PKB-PKS-PAN, Golkar-Hanura, PDI-Gerindra. Semuanya memang sudah sesuai dengan prediksi banyak orang. Golkar dan PDI tidak akan mungkin bersatu karena sudah musuh bebuyutan dari zaman Orde Baru. PDI dan Demokrat juga tidak mungkin bersatu, karena adanya ketidakcocokan antara Ibu Mega dan Pak SBY. Mungkin yang disayangkan orang adalah Golkar dan Demokrat yang tidak bersatu. Tapi tentunya, hal ini akan membuat Pilpres menarik, dengan adanya 3 calon.

Koalisi Partai Demokrat adalah koalisi yang paling menarik dan paling banyak diperbincangkan. 4 Partai Islam dengan aliran yang bisa dibilang sedikit agak berbeda-beda. Jujur saya akui, saya salut dengan terbentuknya koalisi ini. Seorang Bapak SBY bisa membuat 4 Partai Islam yang biasanya jarang akur, menyalahkan ajaran agama Islam yang dianut suatu Partai dan menganggap ajaran dialah yang paling benar. Saya pun sampai sekarang tidak tahu ajaran mana yang salah, karena saya menganggap tidak ada yang salah dari ajaran-ajaran yang mereka bawa. 4 Partai Islam berada dibawah satu payung.Saya tidak peduli kalau ada “udang dibalik batu” dari masing-masing partai itu, tapi yang jelas ini adalah pencampaian yang LUAR BIASA!!! Saya berharap dengan adanya koalisi ini, semoga semua umat Islam di Indonesia, apapun ajarannya, bisa akur, damai, aman sejahtera.

Kembali ke 2 pertanyaan sebelumnya, tentunya masing-masing partai koalisi ingin duduk tinggi di pemerintahan. Tinggi disini maksud saya adalah, bisa berkontribusi kepada negara semaksimal mungkin sehingga, selain memajukan negara menjadi lebih baik, juga bisa meningkatkan elektabilitas pada Pemilu berikutnya. Berbagai nama cawapres SBY bermunculan di media. Diantaranya, ada Hatta Radjasa dan 3 nama perwakilan dari PKS(diberikan kepada SBY namun tidak dipublikasikan. Dugaan-dugaan media diantaranya pasti ada nama HNW dan Tifatul). Namun, yang membingunkan adalah, mengapa Pak SBY “menunda” TERLALU LAMA untuk memutuskan siapa yang akan menjadi pendampingnya?

Selama penundaan itu, 2 koalisi lain sudah berani memunculkan nama capres-cawapres nya. Golkar-Hanura dengan JK-Wiranto dan PDI-Gerindra dengan Mega-Prabowo. 2 koalisi ini mungkin memang lebih gampang memutuskan nama-namanya, mengingat mereka hanya terdiri dari masing-masing 2 partai, sedangkan koalisi SBY terdiri dari 5 partai. Namun, ini tidak bisa dijadikan alasan atas lambatnya Pak SBY mengambil keputusan.

Namun, banyak orang tidak mempedulikan hal ini. Toh, secara persentase, koalisi SBY sudah diatas 50%. Jadi, siapapun cawapresnya, SBY tetap akan menang.

Beberapa hari sebelum tanggal Pak SBY akan mengumumkan nama cawapresnya, gosip-gosip di media pun bermunculan. Hampir semua orang kaget. Cawapres yang dipilih SBY adalah Pak Boediono yang bukan berasal dari partai manapun dalam koalisi. WoW!!! Tentunya ini mengagetkan smua partai didalam koalisi, kecuali Demokrat. Walaupun ini baru gosip, tp pd akhirnya memang Pak Boediono lah yang terpilih.

Pertanyaan bermunculan. MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA? Apa alasan Pak SBY memilih Boediono yang bukan orang partai? Atas dasar apa keputusan ini? Dugaan-dugaan pun bermunculan. Dari yang baik sangka sampai yang buruk sangka.

Dalam surat ini, izinkan saya menyampaikan unek-unek yang ada dalam otak saya mengenai alasan Pak SBY memilih Boediono. Mohon maaf karena saya tidak tahu alasan sebenernya (mungkin pernah disampaikan tapi saya belum membacanya). Jujur, saya lebih banyak berburuk sangka kepada Bapak. Tapi sebelum saya sampaikan suudzhon-suudzhon nya saya, saya akan menyampaikan khusnudzhon yang sempat terlintas dipikiran saya.

 

Versi Khusnudzhon.

  1. Pak SBY ingin keadilan didalam koalisi. Kalu misalnya Pak SBY memilih Hatta Radjasa, ditakutkan nantinya PKS,PKB dan PPP akan cemburu. Takutnya nanti koalisi ini akan terpecah karena ada dugaan-dugaan “pilih kasih”.
  2. Sebagaimana yang kita ketahui, calon-calon pada pilpres kali ini masih bisa dibilang “Orang Lama”. Nah, kalau SBY memilih Boediono, saya yakin Pak Boediono gak akan maju sebagai capres 2014. Dengan begini, akan ada regenerasi dalam Pemerintahan Indonesia. Diharapkan pada 2014, akan muncul orang-orang baru. Tidak ada yang lebih dominan seperti kejadian Pilpres 2009. Pak SBY menginginkan suatu perubahan dalam sistem Pemerintahan Indonesia. Sudah saatnya generasi baru untuk maju. Cukuplah sudah generas-generasi yang masih berbekas masa Orde Barunya.

 

Itulah pikiran-pikiran baik sangka yang pernah terlintas dipikiran saya. Namun, saya tidak bisa menerima kedua alasan tersebut karena pikiran-pikiran suudzhon saya kepada Bapak jauh mendominasi otak saya ini. Mohon maaf, tapi izinkan saya menyampaikan pikiran-pikiran buruk saya ini. Semoga, pikiran buruk ini bukanlah alasan kenapa Pak SBY memilih Boediono.

 

Versi Suudzhon

  1. Bantahan Versi Khusnudzhon nomor 1. Tidak masuk akal! Sebelum terbentuknya koalisi, saya yakin smua partai setuju pada siapapun yg terpilih, asalkan dari dalam koalisi. Dan, saya yakin mereka cukup legowo jika seandainya yang terpilih bukan dari partai mereka. Tapi kita lihat realita yang terjadi. Disaat Bapak memilih Boediono, perpecahan malah timbul. Protes-protes mengalir deras dari hampir smua partai koalisi (hampir disini maksudnya karena selama membaca media, saya tidak pernah mendengar kritik dari PKB). Mereka kecewa kepada Pak SBY. Kalau boleh saya simpulkan, mereka menganggap bahwa Pak SBY cenderung ingin menguasai Koalisi ini. Sempat terdengar tanggapan beberapa partai yang ingin keluar koalisi, tapi ini tidak terjadi. Mengapa? Yah, kalau ingin bersuudzhon lagi, Pak SBY sudah memprediksi akan terjadinya keributan ini. Dan Pak SBY yakin tidak akan ada yang keluar dari koalisi, karena mereka tidak berani. SBY sudah bisa dipastikan akan memenangkan pilpres kali ini. Kalau mereka keluar dari koalisi, mereka tidak akan mendapat jatah kursi di pemerintahan. Silahkan saja mau ribut-ribut, toh ntar pada diem lagi kalau sudah dikasih “makan”.
  2. Pemikiran ini (mudah-mudahan gak seperti ini ya Pak), sangat saya tidak sukai. Pak SBY egois. Dengan kejadian ini, memang koalisi tidak pecah. TAPI, pendukung-pendukung dari Partai Koalisi nya yang terpecah. Beberapa jadi kecewa karena Partainya yang sudah marah habis-habisan sama Pak SBY, malah tetap berada dikoalisi. Dengan terpecahnya internal dari partai-partai itu, jelaslah sudah partai mana yang tetap kuat bertahan untuk kedepannya. Demokrat. Ya, Demokrat akan tetap menjadi partai kuat pada Pemilu 2014. Jadi bisa disimpulkan bahwa ada kepentingan pribadi dari Pak SBY untuk mempertahankan kekuatan partai Demokrat di masa depan.

  3. Tanggapan Versu Khusnudzhon nomor 2. Ya, saya sangat setuju pada alasan ini. Sudah bosan melihat orang-orang lama terus yang maju. Kapan yang muda bisa bertindak. Tapi, kenapa harus Boediono? Toh, banyak juga dari partai lain yang siap maju jd cawapres dan tidak akan menjadi capres. Misal, HNW. PKS kan katanya akan selalu memajukan generasi muda. 5 tahun lagi HNW kan udah ga muda lagi. Jadi ga mungkin mau maju jadi capres. Ya, ini kan memang baru kata mereka. Kita ga tau apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi kan kalaupun tidak HNW, masih ada figur lain. Atau, kenapa ga dari sekarang aja majuin yang masih muda. Biar sekalian jadi pembelajaran untuk generasi muda lainnya di masa yang akan datang.

    Dalam hal ini, saya melihat ada alasan tersembunyi, dan lagi-lagi, demi kepentingan partai. Kalau seandainya cawapres yang maju berasal dari partai, akan ada figur baru untuk masa depan. Kepemimpinan Pak SBY 2009-2014 saya yakin Insya Allah akan berjalan lancar. Indonesia akan maju dengan pesat. Nah, pertanyaanya, pada Pemilihan Umum 2014, siapa yang akan mendapat poin dari kesuksesan ini? Pak SBY jelas ga mungkin karena dia sudah ga boleh maju lagi sebagai calon. Kalau SBY udah ga bs lagi, warga akan mengalihkan pandangannya kemana? Sudah jelas, Wakil Presiden.

    Terlihat jelas bukan? Kalau Wapres berasal dari partai politik, Partai ini akan menjadi saingan kuatnya partai Demokrat di Pemilu 2014, karena dia juga memiliki figur di mata masyarakat. Dengan memilih Boediono, tidak akan ada figur baru di mata masyarakat. Semua hanya akan tertuju kepada SBY. Lalu, tinggal satu pertanyaan saja, apa partainya SBY? Sudah jelas, Demokrat.

Pemikiran-pemikiran diatas hanyalah pikiran kotor saya. Dan saya tidak mau melihat dari sisi lain. Misal, jika pemerintahan gagal, smua kegagalan akan terkena ke partai koalisi ini, khususnya kepada SBY, dan ini adalah kehancuran buat Demokrat. Mohon maaf Pak, pikiran jelek ini lah yang mendominasi saya selama ini, sehingga pada akhirnya, pilpres kemarin saya memilih pasangan nomor urut 3, JK-Wiranto. Mengapa nomor 3, bukan nomor 1? Karena saya menyimpulkan hal ini selama masa kampanye, khususnya debat capres. Saya salut kepada pak JK yang berani untuk angkat suara menyampaikan pendapat-pendapatnya, berani mengkritik, sehingga membuat perdebatan menjadi menarik. Dia juga berani mengeluarkan ide-ide baru dengan jelas, tidak hanya memberikan jawaban-jawaban standar, walaupun saya gak tahu apakah semuanya akan dilaksanakan atau tidak jika beliau terpilih. Tidak seperti Pak SBY yang hanya memberikan jawaban-jawaban standar, dan cenderung menjawab dengan “saya akan mereview apa yg telah saya lakukan”, dan Bu Mega yang selalu membanggakan dirinya sebagai anak Proklamator Indonesia. Saya simpulkan bahwa sang juara debat adalah Pak JK.

Namun, saya sadari bahwa, sehebat apapun Pak JK berbicara, dia tidak akan mungkin menang. Selain dari kuatnya dukungan kepada Pak SBY, mungkin banyak orang yang sudah kecewa kepada “gerbong”nya pak JK, alias Golkar. Banyak orang yang sudah trauma pada Orde Baru. Meskipun mungkin Golkar sekarang sudah berbeda, namun trauma itu masih ada. Mungkin akan lebih baik jika nama Golkar sedikit dimodifikasi (hehehe, :) ).

Sekali lagi, saya ucapkan selamat, walaupun baru hasil Quick Count.

 

Selamat Bapak Yudhyono
Sukses Buat Yang akan datang
Semoga Bisa Yakin akan keputusan-keputusannya
Semangat Baru Yang akan diberikan kepada bangsa ini

 

Salam,

 

Seorang Warga Negara Indonesia yang peduli terhadap masa depan bangsanya

 

NB: Mohon maaf jika banyak EYD yang salah. Maklum, nulis surat ini sampai lupa makan siang, heheheh, :p


Ayat of the week (4)

May 13, 2009

لَّا تَجِدُ قَوۡمً۬ا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ وَلَوۡ ڪَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٲنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَہُمۡ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ڪَتَبَ فِى قُلُوبِہِمُ ٱلۡإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ۬ مِّنۡهُ‌ۖ وَيُدۡخِلُهُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِہَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا‌ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنۡہُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ حِزۡبُ ٱللَّهِ‌ۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
(٢٢)

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan [1] yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap [limpahan rahmat] -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (22)

Al-Mujadila (22)